Nelayan Uwesalura Bentuk Perkumpulan Saongu Lara, Dorong Eduwisata dan Kemandirian Pesisir
- Sabtu, 07 Februari 2026 - 15:19 WITA
- Editor: Abdy Nusantara
- | Penulis: Abdy Nusantara
Nelayan di pesisir Uwesalura, Kelurahan Tondo, Palu, membentuk Perkumpulan Nelayan Saongu lara sebagai wadah bersama untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan posisi sosial masyarakat pesisir.
Faktasulteng.id, PALU – Nelayan di pesisir Uwesalura, Kelurahan Tondo, Palu, membentuk Perkumpulan Nelayan Saongu lara sebagai wadah bersama untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan posisi sosial masyarakat pesisir. Organisasi ini resmi berdiri pada 13 Juni 2025 dan kini mulai menjalankan berbagai program pemberdayaan.
Ketua Umum Perkumpulan Nelayan Saongu lara, Mustika Sari, mengatakan perkumpulan tersebut lahir dari keinginan nelayan sendiri yang membutuhkan pendamping untuk bergerak lebih terorganisir. Ia mengaku awal keterlibatannya bermula dari interaksi sehari-hari saat membeli ikan dari nelayan setempat.
“Awalnya bukan permintaan saya, tapi permintaan nelayan. Mereka merasa perlu ada yang menggerakkan dan menyatukan langkah,” ujar Mustika saat diwawancarai Jumat (7/2/2026) di Lorong Uwe Salura, Tondo, Palu, dalam acara syukuran dan kumpul warga nelayan.
Nama Saongu lara diambil dari bahasa Kaili Torai yang bermakna satu hati, mencerminkan tekad nelayan untuk tetap solid di tengah berbagai dinamika yang mereka hadapi di wilayah pesisir.
Sejak berdiri, perkumpulan ini merintis sejumlah kegiatan, antara lain penguatan kapasitas nelayan, program eduwisata profesi nelayan bagi siswa TK, wisata sehari bersama nelayan dengan konsep bakar ikan mandiri, serta layanan memancing menggunakan perahu warga. Selain itu, dibuka pula kelas Bahasa Inggris untuk anak-anak dan pelatihan Microsoft Office bagi ibu-ibu pesisir.
“Saya datang tidak membawa bantuan, hanya sedikit ilmu. Nelayan punya pengalaman di laut, saya punya pengalaman di masyarakat, kami berjalan bersama-sama,” katanya.
Di Uwesalura terdapat sekitar 10–12 nelayan aktif yang melaut hampir setiap hari. Mereka masih menghadapi keterbatasan alat tangkap dan usia mesin perahu yang sudah tua, sehingga inisiatif ekonomi alternatif melalui wisata dan edukasi dinilai penting untuk menopang pendapatan keluarga.
Mustika berharap kehadiran Perkumpulan Nelayan Saongu lara dapat mengubah cara pandang terhadap nelayan, dari simbol kelompok rentan menjadi profesi yang bernilai dan berdaya. Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah maupun komunitas agar program pesisir dapat berkembang lebih berkelanjutan. (Abdy HM).