Masjid Raya Baitul Khairaat Palu Ditargetkan Rampung Juni 2025, Berikut Faktanya
- Sabtu, 24 Mei 2025 - 10:36 WITA
- Editor: Apri
Foto: Aphink Repadjori
Faktasulteng.id, PALU - Setelah bertahun-tahun pasca-gempa dahsyat yang meluluhlantakkan wilayah ini pada 2018, Masjid Raya Baitul Khairaat di Palu, Sulawesi Tengah, kini semakin menunjukkan wujudnya. Masjid yang digadang-gadang akan menjadi ikon baru sekaligus pusat peradaban Islam di Sulawesi Tengah ini ditargetkan rampung pada Juni 2025, dengan harapan bisa menyambut ribuan jemaah untuk Salat Idul Adha 1446 Hijriah.
Perjalanan dari Reruntuhan Menuju Kebangkitan
Masjid ini sebelumnya dikenal sebagai Masjid Agung Darussalam, yang hancur total akibat gempa berkekuatan 7,7 SR dan tsunami yang menerjang Palu pada September 2018 silam. Nama “Baitul Khairaat,” yang berarti “Rumah Kebaikan” dalam bahasa Arab, secara resmi diresmikan pada Jumat, 7 Februari 2025, menjadi simbol harapan dan kebangkitan bagi umat Islam di wilayah ini.
Pembangunan kembali masjid ini menjadi salah satu prioritas utama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Progresnya menunjukkan angka yang menggembirakan. Pada Desember 2024, pembangunan sudah mencapai 60%, dan per Februari 2025, angka itu melonjak menjadi 78%. Berbagai sumber internal pemerintah provinsi menyebutkan target penyelesaian yang bergeser-geser, mulai dari Maret 2025, kemudian 30 April 2025, hingga akhirnya mengerucut pada Juni 2025.
Kemegahan dan Filosofi Arsitektur
Masjid Raya Baitul Khairaat dirancang untuk menampung hingga 10.000 jemaah, menjadikannya salah satu masjid terbesar di wilayah tersebut. Pondasinya kokoh dengan 483 tiang pancang yang dirancang tahan gempa, memastikan keamanan dan kenyamanan bagi para pengunjung. Material bangunan yang digunakan pun tak sembarangan, memenuhi standar SNI (Standar Nasional Indonesia) dan aman bagi kesehatan.
Keunikan arsitektur masjid ini terletak pada perpaduan harmonis antara peradaban Islam dan budaya lokal. Ornamen daun kelor yang menghiasi fasad eksterior di bawah kubah dome enamel menjadi ciri khas yang membedakannya. Tak hanya itu, sebuah jam raksasa berdiameter 19,5 meter akan menjadi penanda waktu yang ikonik. Di dalam, mihrab dirancang dengan konsep lima waktu salat, sementara interior kubah akan dihiasi kaligrafi Asmaul Husna, menambah kekhusyukan ibadah.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, telah berulang kali meninjau lokasi pembangunan, menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam memastikan kualitas dan ketepatan waktu proyek ini. Dengan segala fitur dan filosofi yang diusungnya, Masjid Raya Baitul Khairaat diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan simbol kemajuan peradaban Islam di Sulawesi Tengah. (**)