Kawasan Transmigrasi Bungku Utara Bergerak! Tim Ekspedisi Patriot Undip Gelar FGD Ungkap Akar Masalah dan Solusi Pengembangan Komoditas Unggulan Lokal
- Senin, 10 November 2025 - 21:55 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
- | Penulis: Redaksi
Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (Undip) bersama perwakilan Kementerian Transmigrasi dan masyarakat lokal saat pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) di Kecamatan Bungku Utara, Morowali Utara, Sulawesi Tengah. (IST)
Faktasulteng.id, BUNGKU UTARA – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (Undip) bersama Kementerian Transmigrasi sukses memfasilitasi musyawarah penting untuk menentukan komoditas unggulan empat desa yang termasuk dalam kawasan transmigrasi Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen Undip dalam mendukung pembangunan wilayah transmigrasi berbasis kajian ilmiah dan pengabdian kepada masyarakat.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Fajrin, mengatakan bahwa kegiatan FGD tersebut merupakan bentuk keterlibatan Undip dalam mendukung pemerintah daerah untuk merumuskan solusi atas berbagai hambatan pembangunan di kawasan transmigrasi.
Dalam diskusi, Koordinator Tim Ekspedisi Patriot, Punggah, mengungkapkan bahwa selama pelaksanaan FGD teridentifikasi sejumlah permasalahan utama, mulai dari irigasi utama (Bendungan Ula) yang mangkrak, pasokan listrik yang belum memadai, kualitas tanah yang masam, ketidakstabilan harga hasil pertanian, hingga kualitas benih dan distribusi pupuk yang belum optimal.
“Ia juga menegaskan tanpa adanya penentuan komoditas unggulan lokal yang jelas, bantuan yang didistribusikan berpotensi tidak tepat sasaran,” ujarnya.
Focus Group Discussion (FGD) Kawasan Transmigrasi Kecamatan Bungku Utara berlangsung selama dua hari, pada 21–22 Oktober 2025. Kegiatan ini melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, serta dinas terkait untuk membahas potensi kawasan dan merumuskan solusi strategis dalam menghadapi tantangan di lapangan.
Hasil FGD menyepakati komoditas unggulan lokal di empat desa kawasan transmigrasi, yaitu:
- Desa Tokala Atas: sawit, padi sawah, kelapa, dan nilam;
- Desa Tambarobone: padi sawah, sawit, dan nilam;
- Desa Tanaku Raya: sawit, padi sawah, dan nilam;
- Desa Woomparigi: padi sawah, sawit, dan nilam.
Selain penetapan komoditas unggulan, masyarakat juga menyampaikan sejumlah aspirasi, di antaranya terkait mangkraknya Bendungan Ula yang seharusnya mampu mengairi lebih dari 2.315 areal persawahan dan perkebunan, harga padi yang tidak stabil, keterbatasan pupuk bersubsidi, serta ketidakjelasan status lahan usaha dua masyarakat transmigran.
“Saya dan masyarakat trans lainnya sudah sering dikunjungi. Tapi jawabannya hanya sebatas iya-iya saja. Sampai sekarang belum ada solusi nyata yang kami rasakan,” ujar seorang masyarakat transmigran Desa Tokala Atas.
Ketua Kelompok Tani Makmur Jaya Desa Tokala Atas juga menuturkan perlunya pelatihan dan bimbingan teknis untuk mengatasi permasalahan di lahan, seperti hama tikus dan walang sangit, serta kondisi tanah yang masam.
Permasalahan Bendungan Ula sebagai irigasi utama, peningkatan manajemen budidaya, dan kemudahan akses pasar disebut harus menjadi fokus utama. Namun, untuk mencapainya dibutuhkan kolaborasi yang sinergis antar lintas sektor.
Melalui rekomendasi hasil kajian dan pengabdian masyarakat, Tim Ekspedisi Patriot Undip berharap temuan ini dapat menjadi landasan bagi pembangunan kawasan transmigrasi Bungku Utara serta menjadi wujud nyata peran aktif Undip dalam mendorong kesejahteraan masyarakat transmigrasi. (**)