Jamrudin 88 Tahun, Jadi Wisudawan Tertua di Sekolah Seroja dan Maroso

Jamrudin 88 Tahun, Jadi Wisudawan Tertua di Sekolah Seroja dan Maroso Jamrudin wisudawan tertua dalam kegiatan wisuda Sekolah Lansia Seroja dan Maroso Kota Palu. (Foto/IST)
Faktarians

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, PALU — Usianya telah 88 tahun. Namun Jamrudin masih datang ke ruang belajar, duduk bersama para lansia lainnya, mengikuti pelajaran, dan menyelesaikan rangkaian pembelajaran di Sekolah Lansia Seroja dan Maroso.

Jamrudin menjadi wisudawan tertua dalam kegiatan wisuda yang diikuti 70 lansia di Kota Palu. Selama 6 hingga 12 bulan, para peserta mengikuti 12 kali pertemuan sebelum akhirnya dinyatakan menyelesaikan S1 atau Standar 1 Sekolah Lansia.

Di usia yang oleh banyak orang dianggap sebagai masa untuk beristirahat, Jamrudin justru memilih kembali belajar.

Usianya menjadi pesan paling kuat dari kegiatan tersebut: proses belajar tidak mengenal batas umur.

“Usia 88 membuktikan bahwa belajar tidak mengenal usia,” kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kota Palu, Ridwan Mustafa, saat membacakan sambutan Wali Kota Palu.

Bagi pemerintah Kota Palu, Sekolah Lansia bukan sekadar tempat berkumpulnya orang-orang lanjut usia. Program itu dirancang untuk mendorong lansia tetap mandiri, produktif, kreatif, sehat, dan bahagia.

Pembelajaran juga tidak berhenti pada pengetahuan di ruang kelas. Para lansia dibekali keterampilan yang dapat menunjang produktivitas mereka.

Pada 2025, misalnya, mereka mengikuti pelatihan menyulam. Pada 2026, pelatihan dilanjutkan dengan keterampilan merajut. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Makassar.

Ridwan mengatakan Pemerintah Kota Palu mengapresiasi program tersebut dan berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan serta menjangkau lebih banyak lansia.

Belajar Menghadapi Zaman

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, melihat persoalan lansia dari perspektif yang lebih luas.

Di Sulawesi Tengah, jumlah lansia telah mencapai 9,93 persen. Kelompok usia lanjut, karena itu, menjadi bagian penting dalam pembangunan keluarga dan kependudukan.

Menurut Isyana, program Sekolah Lansia merupakan program yang telah dijalankan sejak kelembagaan tersebut masih berada di bawah BKKBN. Kini, setelah kelembagaannya ditingkatkan menjadi kementerian, pendekatan pembangunan keluarga tetap dilakukan melalui seluruh siklus kehidupan.

Mulai dari masa kehamilan, menyusui, baduta, batita, balita, remaja, pasangan muda, pasangan suami istri, hingga usia lanjut.

Ada alasan lain mengapa lansia harus terus belajar: zaman berubah lebih cepat daripada sebelumnya.

Teknologi digital membawa kemudahan sekaligus risiko. Penipuan melalui media sosial dan WhatsApp, misalnya, kerap menggunakan modus mengatasnamakan anggota keluarga hingga pemerasan.

Dalam situasi seperti itu, pengetahuan menjadi salah satu bentuk perlindungan.

Isyana mengatakan kompetensi lansia perlu terus ditingkatkan agar mereka mampu mengenali berbagai modus penipuan digital dan tidak mudah menjadi korban.

Jamrudin wisudawan tertua dalam kegiatan wisuda Sekolah Lansia Seroja dan Maroso Kota Palu. (Foto/IST)
Jamrudin wisudawan tertua dalam kegiatan wisuda Sekolah Lansia Seroja dan Maroso Kota Palu. (Foto/IST)

 

Menjaga Kesehatan, Menjaga Kemandirian

Selain pengetahuan dan keterampilan, kesehatan menjadi bagian penting dari kualitas hidup lansia.

Isyana mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pemerintah telah menyediakan program pemeriksaan atau skrining kesehatan gratis setiap tahun untuk mendeteksi potensi penyakit sejak dini dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Pesannya jelas: bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti menjaga kesehatan maupun berhenti beraktivitas.

Di Sekolah Lansia Seroja dan Maroso, pendidikan menjadi salah satu cara untuk menjaga agar lansia tetap memiliki ruang untuk berkembang.

Jamrudin adalah gambaran paling sederhana dari semangat itu.

Di usia 88 tahun, ia mengenakan toga bukan sekadar untuk menerima tanda kelulusan. Ia menunjukkan bahwa keinginan untuk belajar tidak harus berhenti ketika usia bertambah.

Di tengah perubahan teknologi, persoalan kesehatan, dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, ruang belajar seperti Sekolah Lansia menjadi tempat untuk memastikan bahwa mereka tetap menjadi bagian aktif dari kehidupan sosial.

Sebab menjadi tua adalah proses biologis. Tetapi berhenti belajar adalah pilihan.

Dan Jamrudin, di usia 88 tahun, memilih untuk terus belajar. (Apri)