Jalan–Jalan Sejarah Telusuri Jejak Masyarakat Tionghoa di Kota Palu

Jalan–Jalan Sejarah Telusuri Jejak Masyarakat Tionghoa di Kota Palu Peserta kegiatan walking tour “Menelusuri Jejak Masyarakat Tionghoa di Kota Palu” menyusuri sejumlah titik bersejarah yang merekam kontribusi masyarakat Tionghoa dalam perkembangan Kota Palu.
Faktarians

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, Palu — Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Yayasan Karuna Dipa dan Journa Historia menggelar kegiatan jalan–jalan sejarah bertajuk “Menelusuri Jejak Masyarakat Tionghoa di Kota Palu”, Senin (10/11/2025) sore. Kegiatan yang dimulai pukul 15.30 WITA tersebut menyasar sejumlah titik bersejarah yang menunjukkan keberadaan dan peran masyarakat Tionghoa dalam perjalanan sosial Kota Palu.

Pelaksana kegiatan, Jefrianto, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah dilaksanakan untuk kedua kalinya dengan sasaran utama anak muda. Menurutnya, pengetahuan mengenai latar sejarah Kota Palu perlu terus disuarakan agar generasi kini memahami keberagaman yang sejak lama hidup di kota tersebut.

“Kegiatannya sendiri sebenarnya sudah dua kali dilaksanakan. Jadi fokus untuk memperkenalkan kepada masyarakat, utamanya anak pemuda, tentang bagaimana sejarah Kota Palu, bagaimana jejak masyarakat Tionghoa yang ada di Kota Palu, bagaimana peran serta mereka dalam kehidupan bermasyarakat di Palu,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui kegiatan ini diharapkan tumbuh kesadaran bahwa setiap etnis di Palu memiliki kontribusi masing–masing. Pesan keberagaman dan nilai multikulturalisme yang terjaga sejak dulu diharapkan dapat diwariskan ke generasi berikutnya.

Secara teknis, kegiatan ini dikemas dalam bentuk walking tour. Para peserta diajak mengunjungi beberapa lokasi yang dinilai memiliki nilai historis, di antaranya bekas Sekolah Tionghoa yang dibangun pada 1921, “Chong Huq Swesiau”, Vihara Karunadipa yang berdiri pada 1942, serta kawasan Pasar Bambaru yang sejak lama menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat Tionghoa dan warga lainnya.

Selain itu, peserta juga menyambangi Apotik Solinda yang memiliki catatan historis tersendiri, serta SD Muhammadiyah 1 yang dahulu menjadi tempat belajar masyarakat Tionghoa ketika sekolah etnis mereka ditutup. Kondisi itu menjadi bukti adanya penerimaan masyarakat lokal terhadap keberagaman.

Rangkaian tur kemudian dilanjutkan ke Jalan Gajah Mada yang dikenal dengan deretan pertokoan yang sejak lama dikelola komunitas Tionghoa dan menjadi katalisator perkembangan ekonomi di kawasan tersebut.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap wawasan sejarah masyarakat luas semakin terbuka bahwa Kota Palu tumbuh dan berkembang dari kontribusi berbagai etnis yang hidup dalam harmoni. (Abdy HM)