Di Balik Ramainya Lapak Takjil, Harapan Pedagang Kecil Menguat di Tengah Lonjakan Harga
- Kamis, 26 Februari 2026 - 17:16 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
- | Penulis: Ananda Ramadan
Salah satu pelaku UMKM takjil melayani pembeli menjelang waktu berbuka puasa pada Selasa (24/02/26). (Foto: Ananda/Faktasulteng.id)
Faktasulteng.id, PALU - Menjelang waktu berbuka puasa pada Selasa, (24/02/26), lapak-lapak takjil mulai dipadati pembeli. Aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan bercampur dengan manisnya es buah dan es teler yang tersusun rapi di meja jualan. Ramadan kembali menjadi momentum peningkatan pendapatan bagi sebagian pedagang. Di tengah keramaian itu, tersimpan cerita tentang omzet yang melonjak, sekaligus tantangan kenaikan harga bahan pokok yang tak terhindarkan.
Peningkatan jumlah pembeli selama Ramadan menjadi pola yang dirasakan para pedagang setiap tahun. Permintaan takjil yang tinggi menjelang Magrib membuat perputaran uang harian naik dibanding hari biasa. Namun, kenaikan harga bahan baku turut membayangi, mulai dari terigu hingga buah-buahan, sehingga pedagang harus menyesuaikan perhitungan modal dan keuntungan agar tetap bertahan.
Bagi Ibu Rika (45), penjual aneka jajanan kue dan gorengan, Ramadan selalu membawa perbedaan signifikan dibanding hari biasa.
“Kalau hari biasa tidak seramai ini. Pendapatan jelas berbeda, lebih meningkat saat Ramadan,” ujarnya.
Namun, di balik peningkatan penjualan, ia harus menghadapi kenaikan harga bahan pokok, terutama terigu yang menjadi beban utama dalam pembuatan kue dan gorengan. Harga terigu per karton kini mencapai Rp180-195 ribu. Sementara itu, harga terigu eceran yang sebelumnya Rp12 ribu per kilogram, naik menjadi Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.
“Kenaikan bahan terasa sekali, jadi harus pintar mengatur modal supaya tetap ada keuntungan,” jelasnya.
Lonjakan omzet juga dirasakan pedagang minuman takjil. Pemilik lapak Es Teler Cinta (22) mengungkapkan, pendapatannya meningkat hampir dua kali lipat selama Ramadan.
“Kalau hari biasa sekitar Rp300 ribu per hari. Selama Ramadan bisa Rp500 ribu sampai Rp1 juta per hari,” katanya.
Menurutnya, pembeli mulai ramai sejak sore hari hingga menjelang azan Magrib. Banyak warga memilih membeli takjil siap santap untuk berbuka bersama keluarga.
Sementara itu, cerita berbeda datang dari Nazwa (22), penjual es buah. Ia mengaku Ramadan tahun ini tidak seramai tahun lalu.
“Tahun kemarin lebih ramai. Mungkin karena awal Ramadan kali ini banyak mahasiswa yang mudik,” ungkapnya.
Selain faktor jumlah pembeli, Nazwa juga menghadapi tantangan kenaikan harga buah sebagai bahan utama dagangannya. Persaingan yang semakin banyak juga menjadi kendala tersendiri.
“Harga buah naik, saingan juga banyak. Jadi harus tetap jaga kualitas dan rasa supaya pembeli tetap datang,” tuturnya.
Meski diwarnai kenaikan harga bahan baku dan persaingan yang ketat, Ramadan tetap menjadi momen penting bagi para pedagang kecil. Di balik ramainya lapak takjil setiap sore, ada harapan yang menggantung agar berkah bulan suci ini mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarga hingga hari-hari setelahnya.
Kondisi ini mencerminkan dinamika ekonomi masyarakat kecil selama Ramadan. Di satu sisi, peningkatan pembeli memberi ruang tambahan pendapatan bagi keluarga pedagang. Di sisi lain, lonjakan harga bahan pokok dan persaingan usaha menuntut strategi bertahan agar usaha tetap berjalan dan keuntungan tetap terjaga.