Cinta Beda Negara: Kisah Sofhia dan Zhong Zhi Jun dari Desa Tulo
- Jumat, 31 Oktober 2025 - 00:07 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
- | Penulis: Andri Aziz Azandi
Sofhia Utami bersama calon suaminya, Zhong Zhi Jun (Muhammad), pria asal Tiongkok yang memeluk Islam dan siap menikah di Desa Tulo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. (IST)
Faktasulteng.id, SIGI - Di sebuah desa kecil yang asri di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kisah cinta lintas negara tengah tumbuh indah di antara hijaunya pepohonan dan hangatnya keramahan warga.
Adalah Ananda Sofhia Utami, perempuan muda asal Desa Tulo, yang tak pernah menyangka perjalanan hidupnya akan mempertemukannya dengan Zhong Zhi Jun, pria asal Tiongkok yang kini memeluk Islam dan memilih nama Muhammad.
Berawal dari Aplikasi Belajar Bahasa
Kisah mereka bermula setahun lalu, sekitar bulan Oktober 2024. Saat itu, Sofhia tengah aktif menggunakan aplikasi belajar bahasa Korea yang juga digunakan oleh banyak orang dari berbagai negara. Tanpa diduga, pesan langsung (DM) masuk dari seorang pengguna asal Tiongkok bernama Zhong Zhi Jun.
Awalnya, pesan itu hanya berupa sapaan singkat dan permintaan QR WeChat agar bisa berkenalan lebih lanjut. Namun, dua bulan pertama tak berjalan mulus. Sofhia sempat menolak pendekatan Zhi Jun.
“Saya tahu dia baru saja putus dari pacarnya. Jadi saya pikir lebih baik tidak terlalu dekat dulu,” ujar Sofhia sambil tersenyum malu.
Namun, Zhi Jun tidak menyerah. Ia terus menunjukkan ketulusan dan perhatian melalui pesan yang konsisten, doa-doa kecil, dan cara berbicara yang lembut. Lambat laun, hati Sofhia mulai luluh.
Yakin Karena Kesungguhan
Keputusan Sofhia untuk membuka hati tak datang begitu saja. Ia mengaku sempat ragu menjalin hubungan jarak jauh dengan seseorang yang berbeda budaya, bahasa, dan negara. Namun, ketika salah satu temannya menikah dengan pria Tiongkok dan hidup bahagia, keyakinannya mulai tumbuh.
“Saya melihat kesungguhan dia. Walau jarak jauh, dia tetap berusaha memahami saya dan belajar tentang Indonesia,” kata Sofhia.
Upaya Zhi Jun pun tak main-main. Ia memutuskan datang langsung ke Indonesia untuk bertemu keluarga Sofhia dan meminang secara resmi.
Menjejak Tanah Sulawesi Tengah
Tanggal 17 September 2025, Zhi Jun tiba di Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Palu. Dari sana, ia langsung menuju Desa Tulo, tempat Sofhia dan keluarganya tinggal. Kedatangannya disambut hangat oleh keluarga besar dan warga sekitar.
Hari-hari pertama di desa menjadi pengalaman baru baginya. Ia mulai belajar mengenal bahasa daerah, kebiasaan, serta kuliner khas Sulawesi Tengah.
“Awalnya dia makan pakai sumpit dan mangkok kecil,” ujar Sofhia sambil tertawa. “Sekarang sudah bisa makan pakai sendok dan piring, bahkan makan sayur kelor!”
Meski kendala bahasa sering terjadi, keduanya punya cara tersendiri untuk mengatasinya. Gestur tangan, mimik wajah, dan bantuan aplikasi penerjemah menjadi jembatan komunikasi di antara mereka.
Pria yang Lembut dan Pekerja Keras
Sofhia menggambarkan Zhi Jun sebagai sosok yang lembut dan penuh tanggung jawab. Ia memiliki usaha restoran kecil di kampung halamannya serta mengelola kebun dan ternak sendiri.
“Dia orangnya pekerja keras tapi juga lembut,” kata Sofhia. “Dia tidak pernah marah, tidak kasar, dan selalu minta maaf duluan meskipun kadang bukan salahnya.”
Zhi Jun bahkan telah menyiapkan rencana jangka panjang setelah menikah. Ia ingin menetap di Indonesia dan membuka usaha kuliner di Sigi. Namun untuk sementara, paspornya hanya berlaku satu tahun, dan ia akan kembali ke Tiongkok setelah itu untuk mengumpulkan modal sebelum menetap kembali di tanah kelahiran istrinya.
Menyatukan Dua Budaya di Desa Tulo
Rencana pernikahan keduanya akan dilaksanakan pada 5 November 2025 di Desa Tulo. Zhi Jun, atau kini Muhammad, telah resmi memeluk Islam sebagai bentuk penghormatan kepada keyakinan calon istrinya.
Bagi Sofhia, perjalanan cintanya menjadi bukti bahwa jodoh bisa datang dari mana saja, bahkan dari ribuan kilometer jauhnya.
Cinta Tanpa Sekat
Kisah Sofhia dan Zhi Jun bukan sekadar cerita romantis, melainkan juga gambaran bagaimana dua budaya bisa berpadu dalam satu ikatan yang sama — cinta dan komitmen.
Dari aplikasi belajar bahasa hingga pelaminan di desa kecil Sulawesi Tengah, perjalanan mereka menunjukkan bahwa cinta sejati tidak mengenal batas bahasa, jarak, maupun negara.
Bak drama pendek Cina, wanita asal Sigi temukan cinta dari Negeri Panda.