Apatisme: Strategi Senyap yang Membutakan Kita soal Politik
- Kamis, 04 September 2025 - 10:28 WITA
- Editor: Apri
(Foto: Ist)
Faktasulteng.id – Protes berhari-hari, amarah yang tumpah ke jalan, api yang berkobar, hingga penjarahan yang menjadi klimaks drama politik, semua itu tampak seperti puncak perlawanan. Namun, begitu situasi mereda, masyarakat kembali ke rutinitas: pergumulan menyiasati hidup di waktu yang sulit, sementara politisi melanjutkan pesta, dan janji-janji perubahan perlahan dilupakan. Kelelahan kolektif itu kemudian bermuara pada satu sikap paling berbahaya: apatisme.
Masalahnya, apatisme bukan sekadar keletihan yang muncul secara alami sebagai respons. Ia adalah strategi yang sengaja dipelihara. Janji-janji politik yang diulang tanpa pernah ditepati membuat masyarakat terjebak dalam siklus kecewa dan pasrah. Dari situlah lahir budaya diam: “untuk apa peduli, toh ujungnya sama saja.”
Diam itu tampak aman, tapi sejatinya adalah jebakan. Apatisme mengikis daya kritis, menumpulkan kepekaan, dan melemahkan perlawanan. Masyarakat yang apatis mudah diarahkan, mudah ditipu, dan mudah menerima segala ketidakadilan seolah itu lumrah. Harga-harga naik dianggap nasib, korupsi dengan angka fantastis dianggap wajar, hukum yang timpang dianggap hal biasa. Inilah titik rawan ketika rakyat rela menjadi penonton, sementara panggung politik sepenuhnya dikuasai segelintir elit.
Apatisme yang berlarut juga melahirkan rabun politik: kita melihat, tapi tak benar-benar paham apa yang disaksikan. Kita mendengar slogan perubahan, tapi menanggapinya dengan senyum hambar, lalu kembali sibuk dengan urusan perut. Padahal, setiap ketidakpedulian adalah penyerahan kendali. Diam bukan netralitas—diam adalah keputusan untuk membiarkan orang lain mengatur, bahkan mengacak-acak hidup kita.
Jika apatisme dibiarkan, politik akan terus menjadi panggung satu arah. Mereka yang di atas akan tetap nyaman bercokol tanpa rasa takut digugat. Manipulasi akan terus berlangsung, sementara rakyat meninabobokan diri dengan pikiran bahwa “perubahan hanyalah utopia.”
Masyarakat hanya akan kembali cerdas dalam menyikapi politik ketika sadar bahwa apatisme bukan pilihan aman, melainkan racun yang mematikan perlahan. Kesadaran politik lahir dari keberanian kolektif untuk membuka mata, membaca tanda, dan menolak kenyamanan semu yang ditawarkan apatisme.
Maka, jangan pernah berhenti bersuara. Tetap berisik sampai menang. Protes adalah hak kita, meski bagi mereka terdengar seperti ancaman. Sebab, suara kita adalah pengingat bahwa pesta mereka berdiri di atas keringat kita. (Nakoto Sumon)