Jejak Peradaban Islam di Negeri Matador: Merawat Ingatan Tujuh Setengah Abad Kejayaan Andalusia

Jejak Peradaban Islam di Negeri Matador: Merawat Ingatan Tujuh Setengah Abad Kejayaan Andalusia Ilustrasi/Ai/Faktasulteng.id
Fakta Islami

Bagikan Berita ini!

Euforia Piala Dunia 2026 belum sepenuhnya mereda. Kemenangan Timnas Spanyol atas Argentina di laga final seolah menjadi pemantik untuk kembali menengok jauh ke belakang, mengamati jejak peradaban besar bangsa Andalusia. Spanyol hari ini yang digdaya di lapangan hijau, sesungguhnya menyimpan lapisan sejarah panjang yang pernah menjadi pusat pencerahan ilmu pengetahuan dunia.

Sebelum ditaklukkan oleh bangsa Visigoth pada tahun 507 Masehi, Semenanjung Iberia didiami oleh bangsa Vandal. Namun, lembaran sejarah paling gemilang di semenanjung ini ditorehkan ketika peradaban Islam memerintah selama kurang lebih tujuh setengah abad, tepatnya dari tahun 711 M hingga 1492 M. Dalam rentang waktu tersebut, kekuasaan Islam tidak hanya melakukan ekspansi wilayah, tetapi juga meletakkan fondasi kemajuan bagi dunia Barat di berbagai lini kehidupan.

Fakta sejarah mencatat sumbangsih luar biasa di bidang sains dan kedokteran. Literatur medis Islam menjadi rujukan utama Eropa selama berabad-abad. Pada abad ke-12, mahakarya Ibnu Sina (dikenal Barat sebagai Avicenna), Al-Qanun fi at-Tibb, diterjemahkan secara masif. Menyusul pada akhir abad ke-13, buku Al-Hawi karya Ar-Razi turut memperkaya literatur medis Barat. Dunia kedokteran modern juga berutang besar pada Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi (Abulcasis). Ia dikenal sebagai pelopor teknik pembedahan manusia dan memperkenalkan lebih dari 200 alat bedah yang terdokumentasi rapi dalam ensiklopedianya. Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya, Kerajaan Spanyol mengabadikan kediamannya sebagai cagar budaya dan menamai jalan tempat tinggalnya Calle Albucasis.

Ekspansi keilmuan ini merambah pesat hingga ranah inovasi teknologi dan geografi. Jauh sebelum Orville dan Wilbur Wright menerbangkan pesawat bermesin di abad ke-20, uji coba transportasi udara telah diinisiasi oleh ilmuwan Abbas Ibn Firnas. Di bidang astronomi, Ibrahim bin Yahya an-Naqqash mencatatkan presisi tinggi dalam menentukan waktu serta durasi gerhana matahari, sekaligus merancang teropong modern untuk menentukan jarak Bintang dan tata surya. Dunia juga mengenal penjelajah tangguh Ibnu Jubair dari Valencia dan Ibnu Bathutah yang rekam jejak geografisnya membentang hingga ke Samudra Pasai di Pulau Sumatera dan daratan Cina.

Jejak fisik peradaban ini pun masih berdiri megah hingga kini, terekam dalam lanskap arsitektur memukau. Mahakarya seperti Medina az-Zahra, Masjid Cordoba, Istana Aljaferia di Zaragoza, Tembok Toledo, hingga Istana Alhambra di Granada menjadi saksi bisu keindahan tata ruang peradaban Islam di Eropa.

Namun, kejayaan berabad-abad itu akhirnya runtuh. Hidup terisolasi dari negara-negara Muslim lainnya akibat jarak geografis membuat Islam di Spanyol kerap berjuang sendirian mempertahanakan eksistensinya. Sejarawan Mesir, Dr. Raghib as-Sirjani, dalam karyanya Qishah al-Andalus membedah anatomi keruntuhan tersebut. Ia memaparkan tiga faktor utama kehancuran Andalusia: gaya hidup mewah dan glamor para pemimpin, umat yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga menanggalkan semangat perjuangan, serta masifnya pembiaran terhadap kemaksiatan dan kemungkaran.

Tiga faktor keruntuhan Andalusia ini memberikan refleksi tajam bagi tata kelola sosial dan pemerintahan di masa kini. Kemajuan infrastruktur dan sains—sehebat apa pun bentuknya—pada akhirnya tidak akan mampu bertahan lama jika fondasi moral dan integritas para pemimpinnya keropos. Andalusia telah mengajarkan kita bahwa puncak kejayaan bukanlah sebuah akhir, melainkan ujian terberat bagi sebuah peradaban.

 

Penulis: Apriawan Repadjori

Produksi: Redaksi Faktasulteng.id 2026