Wagub Sulteng: Stunting Tak Boleh Tertinggal di Tengah Pertumbuhan Ekonomi
- Kamis, 05 Juni 2025 - 14:35 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
(foto : PPID Utama / Humas Pemprov Sulteng)
Faktasulteng.id, PALU - Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, menegaskan pentingnya memastikan penanganan stunting tidak tertinggal di tengah tren positif pertumbuhan ekonomi daerah. Penegasan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara utama dalam dialog publik “Fokus Kita” yang digelar LPP RRI Palu, Kamis, 5 Juni 2025.
Mengusung tema “Ekonomi Meningkat, Penanganan Stunting Terabaikan?”, dialog tersebut menjadi ruang refleksi terhadap ketimpangan antara capaian ekonomi dan kondisi kesehatan masyarakat di Sulawesi Tengah. Acara berlangsung di Studio RRI Palu dan turut menghadirkan Wakil Bupati Sigi, Dr. Samuel Yansen Pongi, serta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, dr. Syahriar.
Dalam sesi diskusi, dr. Reny mengungkapkan keprihatinannya terhadap masih tingginya angka stunting, meski indikator ekonomi menunjukkan pertumbuhan. Ia menyebut, pertumbuhan ekonomi tidak serta-merta menurunkan angka kemiskinan, yang menjadi akar persoalan stunting.
“Kalau kita melihat dari data yang ada, pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan ini berjalan simetris. Ekonomi meningkat, tetapi angka kemiskinan tidak menurun. Itu sebabnya saya dan Pak Gubernur menggagas program Berani Sehat dan Berani Cerdas sebagai bentuk intervensi langsung untuk membantu masyarakat,” ujarnya.
Program Berani Sehat dan Berani Cerdas, kata Reny, merupakan langkah strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk memperkuat ketahanan keluarga. Inisiatif ini diarahkan untuk memperluas akses terhadap layanan dasar di bidang kesehatan dan pendidikan, sebagai upaya jangka panjang dalam menciptakan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Ia juga memaparkan berbagai langkah konkret yang telah ditempuh pemerintah dalam menekan angka stunting. Mulai dari pemberian tablet tambah darah kepada ibu hamil, distribusi makanan tambahan bergizi untuk balita, hingga edukasi masyarakat melalui program Duta 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Namun, Reny mengakui, efektivitas dari program-program tersebut belum sepenuhnya optimal.
“Mungkin ada metode yang belum tepat sasaran. Karena itu kita perlu evaluasi menyeluruh agar program yang sudah berjalan benar-benar memberi dampak signifikan,” katanya.
Reny juga menekankan bahwa stunting tidak bisa dipandang semata sebagai isu kesehatan. Lebih dari itu, ia menyebut stunting sebagai persoalan pembangunan jangka panjang yang memengaruhi kualitas generasi mendatang.
“Stunting adalah ancaman masa depan. Jika kita tidak serius hari ini, kita sedang merusak kualitas sumber daya manusia kita dalam jangka panjang,” tegasnya.
Menutup sesi, Reny mengajak seluruh elemen masyarakat termasuk pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat, hingga pelaku usaha untuk bersatu dalam menanggulangi stunting secara berkelanjutan.
“Mari kita bergandengan tangan dan bersinergi bersama-sama fokus untuk menurunkan angka stunting sesuai dengan standar nasional yang diinginkan. Jangan fluktuatif, tahun ini giat, tahun depan kendor. Ini bukan semata tugas dinas kesehatan, tapi semua elemen masyarakat harus ambil bagian,” pungkasnya. (**)