Menyusuri Kisah Pulau Pengambil Manusia Daya Tarik Historis Pangalasiang yang Terlupakan

Menyusuri Kisah Pulau Pengambil Manusia Daya Tarik Historis Pangalasiang yang Terlupakan pangalasiang ilustrasi
Editorial

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, DONGGALA – Di ujung barat laut Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, tersembunyi sebuah pulau kecil dengan sejarah kelam namun kaya akan kisah. Namanya Pulau Pangalasiang, terletak di wilayah administrasi Desa Pangalasiang, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala. Bagi sebagian masyarakat Dampal, nama pulau ini tak hanya sekadar toponim, melainkan cerminan masa lalu yang mencekam: pangalaseang, yang berarti ‘pengambil manusia’. Sebutan ini bukan tanpa alasan, merujuk pada rentetan tragedi dan perompakan yang menghiasi narasi panjang pulau ini.

Jejak Kelam Perompak dan Pohon Ilegal

Sejarah Pulau Pangalasiang terukir sejak era Mangindanaw, tahun 1886. Pada masa itu, penduduk yang berani menjejakkan kaki di pulau ini harus hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Perompak menjadi ancaman nyata, menimbulkan pepatah lokal yang menggambarkan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati: “nasib baik jika membunuh, nasib buruk jika terbunuh.” Puncak kekejaman perompak mencapai puncaknya pada tahun 1923, ketika mereka menguasai pulau ini. Tragedi tersebut menelan banyak korban jiwa, meninggalkan jejak mengerikan berupa tengkorak manusia yang kerap ditemukan saat fondasi rumah digali.

Tak hanya perompak, Pulau Pangalasiang juga pernah menjadi titik transit utama bagi aktivitas penebangan liar di masa lampau. Pepohonan yang kini menjadi hutan lindung, pada zamannya, mungkin menjadi saksi bisu gelapnya praktik ilegal yang merajalela. Sejarah kelam ini memberikan perspektif yang menarik tentang interaksi manusia dengan lingkungan di wilayah pesisir, di mana sumber daya alam seringkali menjadi magnet bagi konflik dan eksploitasi.

Simbol Religius dan Kejayaan Maritim

Namun, Pangalasiang bukan hanya tentang tragedi. Pada tahun 1932, sebuah penemuan mengubah citra pulau ini. Sebuah kuburan keramat ditemukan, diyakini sebagai makam Puang Saiyye, seorang Syekh keturunan Arab. Penemuan ini segera menarik minat peziarah, menjadikan Pangalasiang sebagai destinasi wisata religi. Kehadiran makam keramat ini menunjukkan masuknya pengaruh Islam yang kuat di wilayah pesisir Sulawesi, yang seringkali menjadi jalur perdagangan dan penyebaran agama (lihat misalnya: Azra, A. (2006). The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern ‘Ulama’ in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. University of Hawaii Press).

Masa kejayaan Pulau Pangalasiang tiba pada tahun 1960-an. Lokasinya yang strategis di pesisir barat Sulawesi Tengah menjadikannya pusat persinggahan kapal-kapal besar. Kapal-kapal yang berlayar menuju kota-kota besar seperti Tolitoli, Makassar, bahkan hingga Kalimantan, kerap menjadikan pulau ini sebagai dermaga transit. Aktivitas maritim yang ramai ini tentu membawa geliat ekonomi dan pertumbuhan penduduk. Tercatat, pada tahun 2014, Pulau Pangalasiang dihuni oleh 410 jiwa penduduk yang tersebar dalam 220 kepala keluarga. Populasi ini merefleksikan keberagaman etnis khas wilayah pesisir Sulawesi, dengan dominasi Suku Bajau, Pendau, dan Tolitoli, yang saling berinteraksi dengan bahasa Dampal sebagai bahasa sehari-hari.

Tantangan Kekinian: Oase di Tengah Keterbatasan Air

Di balik sejarah panjangnya, Pulau Pangalasiang menghadapi tantangan klasik yang kerap melanda pulau-pulau kecil: krisis air bersih. Sumber daya air tawar yang terbatas memaksa penduduk untuk mencari air dari daratan utama. Setiap hari, warga harus menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor selama kurang lebih 10 menit menuju Kampung Tanjung hanya untuk mendapatkan akses air bersih. Kondisi ini menyoroti urgensi penyediaan infrastruktur dasar yang memadai di pulau-pulau terpencil, sebuah isu yang seringkali menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah (lihat: Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2018). Strategi Pembangunan Pulau-Pulau Kecil dan Pesisir).

Pulau Pangalasiang adalah mikro-kosmos dari sejarah, budaya, dan tantangan yang melekat pada banyak pulau di Indonesia. Dari jejak kelam perompak hingga geliat ekonomi maritim, dari situs ziarah hingga perjuangan mencari setetes air bersih, Pangalasiang adalah pengingat bahwa setiap jengkal tanah, sekecil apapun, memiliki narasi yang layak untuk didengar dan dipahami.

Sumber Referensi: