Editorial: Refleksi 79 Tahun HMI: HMI di Tengah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi; Antara Angka Statistik dan Kesejahteraan Rakyat

Editorial: Refleksi 79 Tahun HMI: HMI di Tengah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi; Antara Angka Statistik dan Kesejahteraan Rakyat Ilustrasi/Ai
Editorial

Bagikan Berita ini!

Peringatan Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tahun ini tidak sekadar menjadi perayaan angka usia, melainkan ujian atas nalar ilmiah para kadernya. Di Sulawesi Tengah, kita sedang menyaksikan sebuah "anomali manis" dalam statistik ekonomi: Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Sulteng konsisten melampaui pertumbuhan nasional, bahkan kini menduduki posisi kedua tertinggi setelah Maluku Utara.

Pertumbuhan ini ditopang kuat oleh sektor industri pengolahan mineral tambang, terutama di koridor Morowali dan Morowali Utara, yang secara linear mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, dalam Landasan Berpikir Ilmiah HMI, sebuah fakta tidak boleh diterima secara mentah (naif). Kita harus masuk ke lapisan esensi: Apakah kemilau nikel ini sudah menetes menjadi kesejahteraan bagi rakyat, atau hanya sekadar menumpuk di kantong-kantong kapital?

Dialektika Data: IPM dan Realitas Sosial

Data terbaru menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi Tengah 2025 telah mencapai angka 72,82, meningkat 0,58 poin (0,80 persen) dari tahun sebelumnya. Ini adalah kemajuan. Namun, jika kita menggunakan pisau analisis HMI, muncul pertanyaan kausalitas: Sejauh mana kontribusi industri tambang tersebut terhadap lompatan IPM di sektor pendidikan dan kesehatan masyarakat lokal?

Masih ada tantangan besar di mana Rata-rata Lama Sekolah (RLS) kita masih berjuang di angka 9,04 tahun. Ini adalah "titik buta" dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Jika kader HMI tidak jeli, kita hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri, saat daerah kita kaya raya namun sumber daya manusianya belum siap menjadi subjek utama pembangunan.

Menggugat Peran Kader: Insan Cita atau Pengamat Saja?

Diskursus yang harus digaungkan setiap kader hari ini adalah: Di mana posisi HMI dalam arus besar industrialisasi ini?

  1. Sebagai Pengawal Distribusi: Kader HMI harus memastikan PAD yang melimpah dari hasil tambang benar-benar kembali ke rakyat dalam bentuk akses pendidikan gratis, kesehatan berkualitas, dan infrastruktur desa yang memadai.

  2. Sebagai Intelektual Progresif: Landasan berpikir ilmiah menuntut kader untuk tidak alergi terhadap data. Kader harus mampu menyusun counter-concept atau kebijakan alternatif jika pertumbuhan ekonomi di Morowali justru melahirkan disparitas sosial yang tajam.

  3. Mewujudkan Tujuan HMI: Masyarakat adil makmur tidak akan tercapai hanya dengan angka PDRB yang tinggi. Ia hanya bisa dicapai jika ada keadilan dalam distribusi kesempatan dan hasil pembangunan.

Refleksi 79 Tahun

Di usia ke-79, HMI di Sulawesi Tengah harus berani melakukan reorientasi gerakan. Kita tidak boleh terjebak hanya pada urusan suksesi internal, sementara kekayaan daerah kita sedang dikelola secara masif.

Sesuai dengan DNA Redaksional Faktasulteng.id yang mengedepankan data, kami mengajak kader HMI untuk menjadi "juru bicara data" bagi rakyat. Gunakan data pertumbuhan ekonomi kedua nasional ini sebagai senjata untuk menuntut keadilan bagi masyarakat Sulteng. Jangan biarkan IPM 72,82 berhenti sebagai angka, ia harus menjadi representasi dari manusia Sulteng yang bermartabat dan mandiri.

Selamat Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam. Mari merawat iman dengan ilmu, dan menjawab tantangan industri dengan amal untuk kemaslahatan ummat.

Yakin Usaha Sampai!