Dari Lintasan 100 Meter Menuju Baitullah: Inovasi Ramadan HIPMI Morowali Utara

Dari Lintasan 100 Meter Menuju Baitullah: Inovasi Ramadan HIPMI Morowali Utara Muh. Fauzan Ari Nugraha, S.AP, atau yang akrab disapa Fauzan Mamala. (Foto: Istimewa)
Advertorial

Bagikan Berita ini!

KOLONODALE, Faktasulteng.id -  Kawasan Tanggul Pelangi Kolonodale mendadak riuh. Di bawah lampu kota yang memantul di permukaan air laut, puluhan pemuda bersiap di garis start. Namun, ini bukan sekadar lomba lari biasa. Di ujung lintasan 100 meter itu, sebuah impian besar menanti: perjalanan ibadah umroh ke Tanah Suci Makkah.

Kegiatan kreatif ini diinisiasi oleh Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Morowali Utara (Morut). Memanfaatkan momentum di bulan suci Ramadan, lomba lari 100 meter ini dirancang untuk memadukan semangat olahraga dengan nilai-nilai spiritual.

Gagasan dari Tokoh Muda

Ide menghadirkan hadiah utama berupa umroh ini lahir dari pemikiran Muh. Fauzan Ari Nugraha, S.AP, atau yang akrab disapa Fauzan Mamala. Sebagai tokoh muda sekaligus Wakil Ketua Umum BPC HIPMI Morut, ia ingin memberikan warna baru dalam perayaan Ramadan di Bumi Tepo Asa Aroa.

"Kami ingin menghadirkan nuansa berbeda. Harapannya, aktivitas olahraga ini tidak hanya menyehatkan fisik, tetapi juga memberikan motivasi spiritual yang mendalam bagi masyarakat," ujar Fauzan saat ditemui di lokasi kegiatan, Minggu (8/3).

Langkah Pendek, Tujuan Mulia Filosofi lomba ini terangkum indah dalam pernyataan Fauzan yang kini menjadi perbincangan hangat warga Morut: "Start-nya dari Tanggul Pelangi Kolonodale, tapi finish-nya di Baitullah." Kalimat tersebut menggambarkan bahwa dari lintasan pendek sejauh 100 meter di pesisir Morowali Utara—kabupaten dengan luas wilayah terbesar di Sulawesi Tengah mencapai 8.736,006 km² —para peserta memiliki peluang untuk menginjakkan kaki di tanah suci. 

Hingga pekan pertama pelaksanaan, empat pelari cepat telah memastikan tiket ke babak final. Persaingan akan berlanjut pada pekan kedua yang digelar Minggu malam, 8 Maret 2026, untuk mencari empat pemenang tambahan. Delapan finalis terbaik nantinya akan diadu kembali pada babak puncak, Senin malam, 9 Maret 2026, guna menentukan siapa yang berhak terbang ke Baitullah.

Simbol Keberagaman dan Inklusi

Satu hal yang menarik perhatian publik adalah munculnya peserta non-muslim sebagai salah satu pemenang di pekan pertama. Menanggapi hal ini, HIPMI Morut menunjukkan sikap inklusif dan profesionalitasnya.

Fauzan menegaskan bahwa hadiah akan tetap diberikan secara setara sebagai bentuk apresiasi atas prestasi. "Jika juara utama nantinya adalah peserta non-muslim, maka hadiah umroh akan dikonversi menjadi uang tunai sebesar Rp20 juta," jelasnya secara tegas.

Kegiatan ini membuktikan bahwa di bawah naungan BPC HIPMI Morut, Ramadan bukan hanya milik satu golongan, melainkan menjadi panggung kebersamaan, inspirasi, dan motivasi bagi seluruh lapisan masyarakat Morowali Utara. (**)