Bedah buku Harnida Wahyuni Adda menghadirkan suara Gen Z, dari keresahan hingga Visi Masa Depan
- Selasa, 30 September 2025 - 18:25 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
Foto Bersama Peserta Bedah Buku 'Pemimpin Era Globalisasi ala Gen Z' di FEB-UNTAD.
Faktasulteng.id, Tadulako - Sinar matahari siang menembus dedaunan di Taman Inkubator Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB Untad), Selasa, 30 September 2025. Di bawah rindangnya pepohon, puluhan mahasiswa duduk rapi menyimak bedah buku Kepemimpinan Era Globalisasi ala Gen Z. Buku itu lahir dari tangan Harnida Wahyuni Adda, Ketua Prodi S1 Manajemen FEB Untad, yang sehari-hari bergumul dengan keseharian mahasiswa generasi Z.
Dekan FEB Untad membuka acara dengan nada penuh semangat. Ia menegaskan, kegiatan literasi seperti bedah buku bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang penting untuk menumbuhkan tradisi intelektual. “Kegiatan literasi menjadi sumber semangat bagi mahasiswa untuk terus belajar dan mengembangkan diri,” ujarnya.
Suasana kian semarak ketika Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, hadir langsung di tengah acara. Dengan langkah mantap, ia menyapa hadirin, lalu menyampaikan pesan yang membuat mahasiswa berdecak kagum. “Saya berharap adik-adik yang hadir saat ini bisa menjadi gubernur seperti saya,” ucapnya, disambut tepuk tangan riuh.
Reny tak sekadar hadir sebagai pejabat. Ia juga memberi kata pengantar dalam buku karya Harnida. “Saya ingin sekali hadir karena buku ini ditulis oleh seorang perempuan. Kita sebagai perempuan harus saling mendukung kegiatan perempuan,” katanya. Ia menutup sambutannya dengan doa agar buku itu menjadi inspirasi generasi muda menghadapi derasnya arus globalisasi.
Bagi Harnida, buku tersebut adalah cermin keprihatinan sekaligus kekaguman terhadap generasi Z. “Ibu Wagub adalah sosok inspiratif dalam penulisan buku ini. Saya ingin menegaskan pentingnya semangat untuk tetap belajar, agar kita mampu mendidik anak-anak kita dengan baik,” tuturnya.
Kesan positif juga datang dari Apriawan, Wakil Pimpinan Redaksi Faktasulteng.id, yang menerima buku langsung dari tangan penulis. Menurutnya, karya Harnida adalah potret isi hati generasi Z—kelompok anak muda yang kerap dilabeli “kaum rebahan” atau “generasi sandwich”. “Padahal mereka punya potensi luar biasa; mudah berempati dengan isu sosial, adaptif dengan perkembangan zaman, dan punya visi masa depan,” ucap Apriawan.

Senada dengan itu, Dr. Husnul Hatimah, S.E., MSA., Ak., CA., salah satu pembahas dalam acara tersebut, menilai buku ini menghadirkan substansi yang tajam namun tetap mudah dicerna. “Gaya bahasanya relevan, tidak menggurui, dan membuat pembaca bisa menyerap pesan dengan santai,” katanya.
Husnul menyoroti kutipan yang menggambarkan Gen Z sebagai generasi yang bisa viral, tetapi tidak kosong makna. “Buku ini mengingatkan bahwa keseriusan tetap diperlukan, karena kesantaian yang berlebihan bisa menjerumuskan. Gen Z sering dilabeli manja, mental tempe, dan mudah rapuh, padahal potensi mereka besar,” ujarnya.
Menurut Husnul, tantangan terbesar generasi Z saat ini adalah ketergantungan pada dunia digital. Situasi itu membuat ruang untuk gagal semakin sempit, sehingga tekanan mental kerap muncul. “Namun, konsep kepemimpinan ala Gen Z yang ditawarkan dalam buku ini tidak bersifat otoriter, melainkan partisipatif dan sesuai semangat zaman,” jelasnya.
Ia menutup paparannya dengan penekanan bahwa karya Harnida layak dibaca bukan hanya oleh mahasiswa, tetapi juga masyarakat luas yang ingin memahami dinamika kepemimpinan generasi muda di era globalisasi.
Bedah buku itu akhirnya bukan sekadar acara literasi kampus. Ia berubah menjadi ruang refleksi—tentang bagaimana generasi Z dipahami, diberdayakan, dan dipersiapkan menjadi pemimpin di panggung global. (Ananda)